Sunday, 22 March 2020

Makalah Sistem Reproduksi Manusia

BAB I
PENDAHULUAN

A. Lalat Belakang
Salah satu ciri mahluk hidup adalah berkembang biak atau bereproduksi. Perkembangbiakan merupakan upaya mahluk hidup untuk melestarikan jenisnya. Cara perkembangbiakan dan alat atau organ tubuh yang mendukung perkembangbiakan tiap jenis organisme bervariasi. Hal ini berkaitan dengan perkembangan struktur tubuh dan penyesuain terhadap kondisi lingkungan tempat hidupnya. Sistem reproduksi manusia memiliki struktur, fungsi, dan proses yang kompleks.
Sistem reproduksi manusia dibedakan atas organ reproduksi pria dan wanita. Organ reproduksi pria terdiri atas penis. testis, dan uretra. sedangkan organ reproduksi wanita terdiri atas ovarium, uterus, dan vagina. Kelainan dan gangguan pada organ-organ tersebut dapat menyebabkan terjadinya kemandulan, bahkan ada penyakit yang menular melalui hubungan seksual yang mengakibatkan kematian.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Sistem Reproduksi Pria
Sistem reproduksi pada pria terdiri dari organ atau alat reproduksi yang berdasarkan letaknya, dibedakan menjadi dua, yakni organ reproduksi yang tampak dari luar dan organ reproduksi yang tidak tampak dari luar. Organ reproduksi bagian luar yang dapat dilihat adalah penis. Sedangkan organ reproksi pria yang tidak tampak dari luar adalah testis, uretra, dan vesikulaseminalis, karena letaknya di dalam tubuh.
Organ-organ reproduksi pria akan mulai akan berkembang pada saat usia menginjak 9 - 15 tahun dan akan berhenti perkembangan pada usia 20 tahun.

A. Penis
Penis tersusun dari jaringan otot, jaringan spons, pembuluh darah, dan jaringan saraf. Penis berfungsi menyalurkan sel kelamin jantan ( sperma ) ke dalam alat kelamin betina.

B. Testis
Testis merupakan tempat pembentukan sperma dan beberapa jenis hormon kelamin jantan (androgen). Peristiwa pembentukan sperma di dalam testis di sebut spermatogenesis. Tesis terletak didalam skorotum atau kantung pelir yang berfungsi mengatur temperatur testis agar sesuai untuk pembentukan sperma.
Di dalam testis terdapat banyak saluran halus di sebut tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitelium dan jaringan ikat. Pada jaringan epitelium terdapat sel induk spermatozoa yang di sebut spermatogenium. Di antara sel spermatogenium terdapat sel sertoli dan sel leding. Sel sertoli memberi makan spermatozoa, sel leding berfungsi menghasilkan hormon testosteron.
Proses pembentukan sperma pada manusia sangat di pengaruhi oleh hormon. Sperma yang berbentuk di dalam testis akan mengalir melalui saluran vasa eferensial dan masuk ke dalam epididimis (kantong sperma). Epididimis merupakan tempat penyimpanan dan pematangan sperma.

C. Uretra
 Dari epididimis, sperma yang hendak dikeluarkan dari tubuh mengalir melalui saluran vasa deferensia dan masuk ke uretra. Uretra merupakan saluran dari kantong kemih yang berhubungan dengan vasa deferensia. Sperma keluar dari penis melalui uretra. Dalam setiap mililiter cairan sperma manusia terkandung ± 120 juta sperma.
Sperma
Stuktur sperma terdiri dari kepala, bagian tengan (badan), dan ekor (flagela). Pada bagian kepala terdapat inti sel dan akrosom yang di bentuk dalam kompleks golgi. Akrosom menghasilkan enzim yang menghasilkan sperma menembus sel telur. Pada bagian tengah, terdapat mitokondria tempat berlangsungnya oksidasi sel untuk membentuk energi yang di gunakan oleh sperma sehingga sperma bergerak aktif. Bagian ekor berupa flagela yang merupakan alat gerak sperma.
Proses pembentukan sperma
Proses pembentukan sperma mulai terjadi pada pria memasuki usia belasan tahun. Mula-mula, sel-sel induk sperma (spermatogonium) membelah secara mitosis sehingga dihasilkan lebih banyak spermatogonium. Sebagian sel-sel spermatogonium ini terus membelah mitosis, sedangkan sebagian lain membesar menjadi spermatosit primer. Oleh karena pembelahan terjadi secara mitosis maka spermatogonium dan spermatosit primer memiliki 2n kromosom (diploid). Kemudian, spermatosit primer meiosis (tahap I) menghasilkan spermatosit sekunder. Oleh karena membelah secara meiosis, maka spermatosit sekunder memiliki n kromosom (haploid). Spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis (tahap II) menghasilkan dua sel yang juga haploid (n). Hasil pembelahan tersebut spermatid, dan diperoleh empat spermatid. Sel-sel spermatid akan mengubah diferensiasi (perubahan bentuk) menjadi sel spermatozoa atau sperma, peristiwa ini disebut dengan spermiogenesis. Perbedaan tersebut meliputi keberadaan kepala, badan (tengah), dan ekor (flagela).

B.Sistem Reproduksi Pada Wanita
Alat reproduksi wanita terdiri atas ovarium (indung telur), uterus (rahim), dan vagina. Ovarium merupakan organ penghasil sel telur (ovum) yang terletak di sisi kanan dan kiri rahim; ovarium pada kedua sisi rahim masing-masing besarnya kurang lebih seperti ukuran buah anggur. Rahim merupakan rongga tempat tumbuh dan berkembangnya janin. Vagina merupakan lubang tempat keluarnya janin pada proses kelahiran, tempat keluarnya darah menstruasi, dan tempat masuknya sperma. Selain itu juga terdapat saluran telur (oviduk atau tuba Fallopi), yaitu saluran yang dilalui sel telur dalam perjalanannya dari indung telur menuju rahim.
1. Pembentukan Ovum
Proses pembentukan ovum di dalam ovarium disebut oogenesis. Pada ovarium di dalam tubuh embrio (fetus) telah terdapat sckitar 600.000 buah sel induk telur (oogonium). Pada umur embrio lima bulan, oogonium memperbanyak diri secara mitosis, membentuk ± 7 juta oosit primer. Setelah itu terjadi pengurangan jumlah oosit primer sampai lahir. Pada saat embrio berumur 6 bulan, ooÈ™it primer sedang dalam tahap meiosis I, khususnya berada pada tahap profase I. Ketika seorang bayi perempuan lahir, ovarium telah berisi sekitar 1-2 juta sel telur (oosit primer). Selanjutnya, oosit primer tersebut istirahat (tidak melakukan pembelahan) sampai masa pubertas. Pada waktu anak berumur 7 tahun, jumlah oosit primer berkurang lagi menjadi sekitar 300-400 ribu oosit primer.
Setelah masuk masa pubertas, dan seseorang sudah mengalami menstruasi atau haid, saat itu kelenjar hipofisis perempuan menghasilkan FSH (follicle stimulating hormone) yang merangsang oosit primer untuk melanjutkan pembelahan. Dari pembelahan tersebut, dihasilkan dua sel yang ukurannya tidak sama. Sel yang ukurannya kecil disebut badan polar pertama. Sel tersebut akan melanjutkan pembelahan meiosis (II) dan menghasilkan dua badan polar. Sel yang berukuran besar disebut oosit sekunder, yang terus membelah menghasilkan satu sel yang besar disebut ootid dan satu sel badan polar. Sel ootid berkembang menjadi sel telur yang siap diovulasikan.
Seperti halnya spermatogenesis, proses oogenesis juga dipengaruhi oleh berbagai jenis hormon. Hormon-hormon tersebut dihasilkan oleh hipofisis atau oleh ovarium sendiri.
2. Proses dan Siklus Menstruasi
 Secara berkala, sel telur yang sudah matang akan dikeluarkan dari indung telur. Sel telur ini akan bergerak melalui saluran telur menuju rahim. Sementara itu, dinding secara berkala akan menebal sehingga rahim siap menerima zigot hasil fertilisasi. Jika fertilisasi tidak terjadi, sel telur dan jaringan yang terbentuk pada dinding rahim akan luruh dan dikeluarkan dari rahim sebagai menstruasi (haid).
  Siklus menstruasi ini berkaitan dengan pembentukan sel telur dan pembentukan endometrium (dinding rahim). Siklus menstruasi rata-rata 28 hari. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai siklus yang sama; ada yang masanya hanya 21 hari, dan ada pula yang mencapai 30 hari. Siklus ini dikendalikan oleh hormon-hormon reproduksi yang dihasilkan oleh hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.
  Remaja perempuan yang telah mengalami menstruasi dikatakan telah memasuki usia subur karena telah mengalami ovulasi (menghasilkan ovum).
    Wanita mulai mengalami menstruasi pada usia sekitar 9 - 15 tahun dan terus berlanjut sampai masa menopause pada usia sekitar 45-49 tahun. Setelah memasuki masa menopause seorang wanita tidak dapat menghasilkan ovum, karena semua oosit primer yang tersisa mengalami degradasi.

C. Perkembangan Embrio
Pembuahan terjadi di saluran telur (tuba Fallopi atau oviduk). Zigot yang terbentuk menuju ke rahim (uterus), kemudian membelah diri menjadi dua, empat, delapan, enam belas, dan seterusnya. Sementara itu, lapisan dalam dinding rahim menebal untuk memberi makanan bagi embrio. Embrio memperoleh makanan dari tubuh induknya melalui plasenta (ari-ari). Selanjutnya, makanan masuk ke embrio melalui tali pusar. Melalui tali pusar tersebut, sisa-sisa metabolisme dan zat yang tidak berguna dialirkan kembali ke plasenta dan akhirnya ke tubuh ibunya.
Di dalam uterus, embrio dikelilingi oleh suatu cairan yang disebut cairan amnion atau ketuban. Cairan amnion berfungsi untuk melindungi embrio dari guncangan.
Tahap perkembangan embrio dari usia 5 minggu hingga usia 5 bulan, pada usia 5 minggu, embrio telah mempunyai kepala, mata, tubuh, ekor yang pendek, dan calon tangan serta kaki. Panjang embrio hampir mencapai 7 milimeter.
Pada usia 9 minggu, embrio telah berubah menjadi bayi kecil yang sudah terbentuk. la mempunyai wajah dengan mata, telinga, hidung, dan lidah. Jari-jari kaki dan tangannya juga sudah tampak. Kepalanya jauh lebih besar dari badannya. Embrio pada usia ini sudah dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Panjangnya kira-kira 5,5 cm.
Pada usia 14 minggu, organ-organ tubuh yang dimilikinya sudah semakin berkembang. Panjang tubuh bayi sekitar 6 cm.
Pada usia 20 minggu, bayi memiliki panjang tumbuh sekitar 19 cm dan beratnya sekitar setengah kilogram. Organ-organ tubuhnya sudah lebih berkembang. Tangan dan kakinya sudah dilengkapi dengan kuku. Sudah memiliki alis mata dan bulu mata. Pada usia ini, detak jantung bayi dapat terdeteksi dan bayi sangat aktif. 
Ketika usia bayi mencapai 24 minggu, pertumbuhan badannya sangat pesat. Pada saat bayi akan lahir, berat normalnya sekitar 3 kg, panjangnya sekitar 45 cm, lingkar kepala bayi sama dengan lingkar bahu atau pangkal pahanya. Setelah lahir, plasenta akan ikut keluar.

D. Hormon Reproduksi
Sistem-sistem reproduksi manusia, baik pada pria maupun wanita, dipengaruhi oleh hormon-hormon tertentu. Hormon yang mempengaruhi sistem reproduksi pria antara lain gonadotrofin, FSH, LH, dan testosteron. Hormon yang mempengaruhi sistem reproduksi wanita antara lain gonadotrofin, FSH, LH, estrogen, dan progesteron. 
  1. Hormon gonadotrofin, dihasilkan oleh hipotalamus (di bagian dasar otak yang merangsang kelenjar hipofisis bagian anterior agar mengeluarkan hormon FSH dan LH. 
  2. FSH (follicle stmulating hormone), berfungsi mempengaruhi dan merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (androgen binding protein) yang berfungsi memacu pembentukan sperma. Pada wanita, FSH merangsang folikel primer dalam ovarium untuk membelah.
  3. LH (huteinizing hormone), berfungsi merangsang sel Leydig agar mensekresikan hormon testosteron. Pada wanita, LH merangsang aktivitas korpus luteum di ovarium. Korpus luteum kemudian menghasilkan hormon progesteron dan estrogen. 
  4. Hormon testosteron, dihasilkan oleh testis, berfungsi merangsang perkembangan organ seks primer pada saat embrio belum lahir, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri kelamin sckunder (misal cambang, jakun, suara), memelihara ciri-ciri kelamin sekunder, dan mempengaruhi proses spermatogenesis. 
  5. Estrogen, berfungsi dalam perkembangan ciri seks sekunder wanita serta berperan penting dalam siklus menstruasi. 
  6. Progesteron, berperan dalam siklus menstruasi, kehamilan, serta dalam embriogenesis.


No comments:

Post a Comment