BAB I
PENDAHULUAN
A.
Lalat Belakang
Salah satu ciri mahluk hidup adalah
berkembang biak atau bereproduksi. Perkembangbiakan merupakan upaya mahluk
hidup untuk melestarikan jenisnya. Cara perkembangbiakan dan alat atau organ
tubuh yang mendukung perkembangbiakan tiap jenis organisme bervariasi. Hal ini
berkaitan dengan perkembangan struktur tubuh dan penyesuain terhadap kondisi
lingkungan tempat hidupnya. Sistem reproduksi manusia memiliki struktur,
fungsi, dan proses yang kompleks.
Sistem reproduksi manusia dibedakan atas
organ reproduksi pria dan wanita. Organ reproduksi pria terdiri atas penis.
testis, dan uretra. sedangkan organ reproduksi wanita terdiri atas ovarium,
uterus, dan vagina. Kelainan dan gangguan pada organ-organ tersebut dapat menyebabkan
terjadinya kemandulan, bahkan ada penyakit yang menular melalui hubungan
seksual yang mengakibatkan kematian.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sistem Reproduksi Pria
Sistem
reproduksi pada pria terdiri dari organ atau alat reproduksi yang berdasarkan
letaknya, dibedakan menjadi dua, yakni organ reproduksi yang tampak dari luar
dan organ reproduksi yang tidak tampak dari luar. Organ reproduksi bagian luar
yang dapat dilihat adalah penis. Sedangkan organ reproksi pria yang tidak
tampak dari luar adalah testis, uretra, dan vesikulaseminalis, karena letaknya
di dalam tubuh.
Organ-organ
reproduksi pria akan mulai akan berkembang pada saat usia menginjak 9 - 15
tahun dan akan berhenti perkembangan pada usia 20 tahun.
A.
Penis
Penis
tersusun dari jaringan otot, jaringan spons, pembuluh darah, dan jaringan
saraf. Penis berfungsi menyalurkan sel kelamin jantan ( sperma ) ke dalam alat
kelamin betina.
B.
Testis
Testis
merupakan tempat pembentukan sperma dan beberapa jenis hormon kelamin jantan
(androgen). Peristiwa pembentukan sperma di dalam testis di sebut
spermatogenesis. Tesis terletak didalam skorotum atau kantung pelir yang
berfungsi mengatur temperatur testis agar sesuai untuk pembentukan sperma.
Di
dalam testis terdapat banyak saluran halus di sebut tubulus seminiferus terdiri
dari jaringan epitelium dan jaringan ikat. Pada jaringan epitelium terdapat sel
induk spermatozoa yang di sebut spermatogenium. Di antara sel spermatogenium
terdapat sel sertoli dan sel leding. Sel sertoli memberi makan spermatozoa, sel
leding berfungsi menghasilkan hormon testosteron.
Proses
pembentukan sperma pada manusia sangat di pengaruhi oleh hormon. Sperma yang
berbentuk di dalam testis akan mengalir melalui saluran vasa eferensial dan
masuk ke dalam epididimis (kantong sperma). Epididimis merupakan tempat
penyimpanan dan pematangan sperma.
C.
Uretra
Dari epididimis, sperma yang hendak
dikeluarkan dari tubuh mengalir melalui saluran vasa deferensia dan masuk ke
uretra. Uretra merupakan saluran dari kantong kemih yang berhubungan dengan
vasa deferensia. Sperma keluar dari penis melalui uretra. Dalam setiap
mililiter cairan sperma manusia terkandung ± 120 juta sperma.
Sperma
Stuktur
sperma terdiri dari kepala, bagian tengan (badan), dan ekor (flagela). Pada
bagian kepala terdapat inti sel dan akrosom yang di bentuk dalam kompleks
golgi. Akrosom menghasilkan enzim yang menghasilkan sperma menembus sel telur.
Pada bagian tengah, terdapat mitokondria tempat berlangsungnya oksidasi sel
untuk membentuk energi yang di gunakan oleh sperma sehingga sperma bergerak
aktif. Bagian ekor berupa flagela yang merupakan alat gerak sperma.
Proses pembentukan sperma
Proses
pembentukan sperma mulai terjadi pada pria memasuki usia belasan tahun.
Mula-mula, sel-sel induk sperma (spermatogonium) membelah secara mitosis
sehingga dihasilkan lebih banyak spermatogonium. Sebagian sel-sel
spermatogonium ini terus membelah mitosis, sedangkan sebagian lain membesar
menjadi spermatosit primer. Oleh karena pembelahan terjadi secara mitosis maka
spermatogonium dan spermatosit primer memiliki 2n kromosom (diploid). Kemudian,
spermatosit primer meiosis (tahap I) menghasilkan spermatosit sekunder. Oleh
karena membelah secara meiosis, maka spermatosit sekunder memiliki n kromosom
(haploid). Spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis (tahap II)
menghasilkan dua sel yang juga haploid (n). Hasil pembelahan tersebut
spermatid, dan diperoleh empat spermatid. Sel-sel spermatid akan mengubah
diferensiasi (perubahan bentuk) menjadi sel spermatozoa atau sperma, peristiwa
ini disebut dengan spermiogenesis. Perbedaan tersebut meliputi keberadaan
kepala, badan (tengah), dan ekor (flagela).
B.Sistem
Reproduksi Pada Wanita
Alat
reproduksi wanita terdiri atas ovarium (indung telur), uterus (rahim), dan
vagina. Ovarium merupakan organ penghasil sel telur (ovum) yang terletak di
sisi kanan dan kiri rahim; ovarium pada kedua sisi rahim masing-masing besarnya
kurang lebih seperti ukuran buah anggur. Rahim merupakan rongga tempat tumbuh
dan berkembangnya janin. Vagina merupakan lubang tempat keluarnya janin pada
proses kelahiran, tempat keluarnya darah menstruasi, dan tempat masuknya
sperma. Selain itu juga terdapat saluran telur (oviduk atau tuba Fallopi),
yaitu saluran yang dilalui sel telur dalam perjalanannya dari indung telur
menuju rahim.
1.
Pembentukan Ovum
Proses
pembentukan ovum di dalam ovarium disebut oogenesis. Pada ovarium di dalam
tubuh embrio (fetus) telah terdapat sckitar 600.000 buah sel induk telur
(oogonium). Pada umur embrio lima bulan, oogonium memperbanyak diri secara
mitosis, membentuk ± 7 juta oosit primer. Setelah itu terjadi pengurangan
jumlah oosit primer sampai lahir. Pada saat embrio berumur 6 bulan, ooșit
primer sedang dalam tahap meiosis I, khususnya berada pada tahap profase I.
Ketika seorang bayi perempuan lahir, ovarium telah berisi sekitar 1-2 juta sel
telur (oosit primer). Selanjutnya, oosit primer tersebut istirahat (tidak
melakukan pembelahan) sampai masa pubertas. Pada waktu anak berumur 7 tahun,
jumlah oosit primer berkurang lagi menjadi sekitar 300-400 ribu oosit primer.
Setelah
masuk masa pubertas, dan seseorang sudah mengalami menstruasi atau haid, saat
itu kelenjar hipofisis perempuan menghasilkan FSH (follicle stimulating
hormone) yang merangsang oosit primer untuk melanjutkan pembelahan. Dari
pembelahan tersebut, dihasilkan dua sel yang ukurannya tidak sama. Sel yang
ukurannya kecil disebut badan polar pertama. Sel tersebut akan melanjutkan
pembelahan meiosis (II) dan menghasilkan dua badan polar. Sel yang berukuran
besar disebut oosit sekunder, yang terus membelah menghasilkan satu sel yang
besar disebut ootid dan satu sel badan polar. Sel ootid berkembang menjadi sel
telur yang siap diovulasikan.
Seperti
halnya spermatogenesis, proses oogenesis juga dipengaruhi oleh berbagai jenis
hormon. Hormon-hormon tersebut dihasilkan oleh hipofisis atau oleh ovarium
sendiri.
2.
Proses dan Siklus Menstruasi
Secara
berkala, sel telur yang sudah matang akan dikeluarkan dari indung telur. Sel
telur ini akan bergerak melalui saluran telur menuju rahim. Sementara itu,
dinding secara berkala akan menebal sehingga rahim siap menerima zigot hasil
fertilisasi. Jika fertilisasi tidak terjadi, sel telur dan jaringan yang
terbentuk pada dinding rahim akan luruh dan dikeluarkan dari rahim sebagai
menstruasi (haid).
Siklus menstruasi ini berkaitan dengan pembentukan sel telur dan pembentukan
endometrium (dinding rahim). Siklus menstruasi rata-rata 28 hari. Akan tetapi,
tidak semua orang mempunyai siklus yang sama; ada yang masanya hanya 21 hari,
dan ada pula yang mencapai 30 hari. Siklus ini dikendalikan oleh hormon-hormon
reproduksi yang dihasilkan oleh hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.
Remaja perempuan yang telah mengalami menstruasi dikatakan telah memasuki usia
subur karena telah mengalami ovulasi (menghasilkan ovum).
Wanita mulai mengalami menstruasi pada usia sekitar 9 - 15 tahun dan
terus berlanjut sampai masa menopause pada usia sekitar 45-49
tahun. Setelah memasuki masa menopause seorang wanita tidak dapat menghasilkan
ovum, karena semua oosit primer yang tersisa mengalami degradasi.
C.
Perkembangan Embrio
Pembuahan
terjadi di saluran telur (tuba Fallopi atau oviduk). Zigot yang terbentuk
menuju ke rahim (uterus), kemudian membelah diri menjadi dua, empat, delapan,
enam belas, dan seterusnya. Sementara itu, lapisan dalam dinding rahim menebal
untuk memberi makanan bagi embrio. Embrio memperoleh makanan dari tubuh
induknya melalui plasenta (ari-ari). Selanjutnya, makanan masuk ke embrio
melalui tali pusar. Melalui tali pusar tersebut, sisa-sisa metabolisme dan zat
yang tidak berguna dialirkan kembali ke plasenta dan akhirnya ke tubuh ibunya.
Di
dalam uterus, embrio dikelilingi oleh suatu cairan yang disebut cairan amnion
atau ketuban. Cairan amnion berfungsi untuk melindungi embrio dari guncangan.
Tahap
perkembangan embrio dari usia 5 minggu hingga usia 5 bulan, pada usia 5 minggu,
embrio telah mempunyai kepala, mata, tubuh, ekor yang pendek, dan calon tangan
serta kaki. Panjang embrio hampir mencapai 7 milimeter.
Pada
usia 9 minggu, embrio telah berubah menjadi bayi kecil yang sudah terbentuk. la
mempunyai wajah dengan mata, telinga, hidung, dan lidah. Jari-jari kaki dan tangannya
juga sudah tampak. Kepalanya jauh lebih besar dari badannya. Embrio pada usia
ini sudah dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Panjangnya kira-kira 5,5 cm.
Pada
usia 14 minggu, organ-organ tubuh yang dimilikinya sudah semakin berkembang.
Panjang tubuh bayi sekitar 6 cm.
Pada
usia 20 minggu, bayi memiliki panjang tumbuh sekitar 19 cm dan beratnya sekitar
setengah kilogram. Organ-organ tubuhnya sudah lebih berkembang.
Tangan dan kakinya sudah dilengkapi dengan kuku. Sudah memiliki alis mata
dan bulu mata. Pada usia ini, detak jantung bayi dapat terdeteksi dan bayi
sangat aktif.
Ketika
usia bayi mencapai 24 minggu, pertumbuhan badannya sangat pesat. Pada saat bayi
akan lahir, berat normalnya sekitar 3 kg, panjangnya sekitar 45 cm, lingkar
kepala bayi sama dengan lingkar bahu atau pangkal pahanya. Setelah lahir,
plasenta akan ikut keluar.
D.
Hormon Reproduksi
Sistem-sistem
reproduksi manusia, baik pada pria maupun wanita, dipengaruhi oleh
hormon-hormon tertentu. Hormon yang mempengaruhi sistem reproduksi pria antara
lain gonadotrofin, FSH, LH, dan testosteron. Hormon yang mempengaruhi sistem
reproduksi wanita antara lain gonadotrofin, FSH, LH, estrogen, dan progesteron.
- Hormon gonadotrofin, dihasilkan
oleh hipotalamus (di bagian dasar otak yang merangsang kelenjar hipofisis
bagian anterior agar mengeluarkan hormon FSH dan LH.
- FSH (follicle stmulating hormone),
berfungsi mempengaruhi dan merangsang perkembangan tubulus seminiferus dan
sel Sertoli untuk menghasilkan ABP (androgen binding protein) yang
berfungsi memacu pembentukan sperma. Pada wanita, FSH merangsang folikel
primer dalam ovarium untuk membelah.
- LH (huteinizing hormone), berfungsi
merangsang sel Leydig agar mensekresikan hormon testosteron. Pada wanita,
LH merangsang aktivitas korpus luteum di ovarium. Korpus luteum kemudian
menghasilkan hormon progesteron dan estrogen.
- Hormon testosteron, dihasilkan oleh
testis, berfungsi merangsang perkembangan organ seks primer pada saat
embrio belum lahir, mempengaruhi perkembangan alat reproduksi dan ciri
kelamin sckunder (misal cambang, jakun, suara), memelihara ciri-ciri
kelamin sekunder, dan mempengaruhi proses spermatogenesis.
- Estrogen, berfungsi dalam
perkembangan ciri seks sekunder wanita serta berperan penting dalam siklus
menstruasi.
- Progesteron, berperan dalam siklus
menstruasi, kehamilan, serta dalam embriogenesis.
No comments:
Post a Comment