Salah satu ciri maklum hidup adalah berkembang biak atau bereproduksi. Perkembangbiakan merupakan upaya mahkluk hidup untuk melestarikan jenisnya. Cara perkembangbiakan dan alat atau organ tubuh yang mendukung perkembangbiakan tiap jenis organisme bervariasi. Hal ini berkaitan dengan perkembangan struktur tubuh dan penyesuaian terhadap kondisi lingkungan tempat hidupnya. Sistem reproduksi manusia memiliki struktur, fungsi, dan proses yang kompleks.
Sistem Reproduksi pada manusia dibedakan atas organ reproduksi pria dan wanita. Organ reproduksi pria terdiri atas penis, testis, dan uretra. Sedang organ reproduksi pada wanita terdiri atas ovarium, uterus, dan vagina. Kelainan dan gangguan pada organ-organ tersebut dapat terjadi kemandulan, bahkan ada penyakit yang menular melalui hubungan seksual yang mengakibatkan kematian
A. Sistem Reproduksi pada Pria
Sistem reproduksi pada pria terdiri dari organ atau alat reproduksi yang berdasarkan letaknya dibedakan menjadi dua, yakni organ reproduksi yang tampak dari luar dan organ reproduksi yang tidak tampak dari luar. Organ reproduksi bagian luar yang dapat dilihat adalah penis. Sedangkan organ reproduksi pria yang tidak tampak dari luar adalah testis, uretra, dan vesikula seminalis, karena letaknya di dalam tubuh.
Organ-organ reproduksi pria akan mulai berkembang pada saat usia menginjak 9-15 tahun dan akan berhenti perkembangannya pada usia 20 tahun.
1. Penis
Penis tersusun dari jaringan otot, jaringan spons, pembuluh darah, jaringan saraf. Penis berfungsi menyalurkan sel kelamin jantan (sperma) ke dalam alat kelamin betina.
2. Tesis
Tesis merupakan tempat pembentukan sperma dan beberapa jenis hormon kelamin jantan (androgen). Peristiwa pembentukan sperma di dalam testis disebut spermatogenesis. Tesis terletak di dalam skrotum atau kantor pelit yang berfungsi mengatur temperatur testis agar sesuai untuk pembentukan sperma.
Di dalam testis terdapat banyak saluran halus yang disebut tubulus seminiferus. Dinding tubulus seminiferus terdiri dari jaringan epitelium dan jaringan ikat. Pada jaringan epitelium terdapat sel induk spermatozoa yang disebut spermatogonium. Di dalam spermatogonium terdapat sel sertoli dan sel Leydig. Sel sertoli berfungsi memberikan makan spermatozoa, sedangkan sel Leydig berfungsi menghasilkan hormon testosteron.
Proses pembentukan sperma pada manusia sangat dipengaruhi oleh hormon. Sperma yang terbentuk di dalam testis akan mengalir melalui saluran vasa eferensia dan masuk ke dalam epididimis (kantong sperma). Epididimis merupakan tempat penyimpanan dan pematangan sperma.
3. Uretra
Dari epididimis, sperma yang hendak dikeluarkan dari tubuh mengalir melalui saluran vasa deferensia dan masuk ke uretra. Uretra merupakan saluran dari kantor kemih yang berhubungan dengan vasa eferensia. Sperma keluar dari penis melalui uretra. Dalam setiap mililiter cairan sperma mengandung 120 juta sperma.
Sperma
Struktur sperma terdiri dari kepala, bagian tengah (badan), dan ekor (flagela). Pada bagian kepala terdapat inti sel dan akrosom yang dibentuk dari kompleks Golgi. Akrosom menghasilkan enzim yang berfungsi membantu sperma menembus sel telur. Pada bagian tengah, terdapat mitokondria tempat berlangsungnya oksidasi sel untuk membentuk energi yang digunakan oleh sperma sehingga sperma dapat bergerak aktif. Bagian ekor berupa flagela yang merupakan alat gerak sperma.
Proses pembentukan sperma
Proses pembentukan sperma mulai terjadi ketika seorang pria menginjak usia belasan tahun. Mula-mula, sel-sel induk sperma (spermatogonium) membelah secara mitosis beberapa kali sehingga dihasilkan lebih banyak spermatogonium. Sebagai dari sel-sel spermatogonium tersebut membelah secara mitosis sedangkan sebagian yang lain menjadi spermatosit primer. Oleh karena pembelaha terjadi secara mitosis maka spermatogonium dan spermatosit primer mempunyai 2n kromosom (diploid)
Kemudian, spermatosit primer membelah secara meiosis (tahap I) menghasilkan spermatosit sekunder. Oleh karena membelah secara meiosis, maka spermatosit sekunder mempunyai n kromosom (haploid). Spermatosit sekunder membelah lagi secara meiosis (tahap II) menghasilkan dua sel yang juga haploid (n). Hasil pembelahan tersebut disebut spermatid, dan diperoleh empat spermatid. Sel-sel spermatid akan mengalir diferensiasi (perubahan bentuk) menjadi sel spermatozoa atau sperma, peristiwa ini disebut dengan spermiogenesis. Diferensiasi tersebut meliputi adanya kepala, badan (bagian tengah), dan ekor (flagela).
B. Sistem Reproduksi pada Wanita
Alat reproduksi wanita terdiri dari atas ovarium (indung telur), uterus (rahim), dan vagina. Ovarium merupakan organ penghasil sel telur (ovum) yang terletak di kanan dan kiri rahim, ovarium pada kedua sisi rahim masing-masing ukuran seperti buah anggur. Rahim merupakan rongga tempat dan berkembang janin. Vagina merupakan lubang tempat keluarnya janin pada proses kelahiran, tempat keluarnya darah menstruasi, dan tempat masuknya sperma. Selain itu juga terdapat saluran yang dilalui sel telur dalam perjalanannya dari indung telur menuju rahim.
1. Pembentukan Ovum
Proses pembentukan ovum di dalam ovarium disebut oogenesis. Pada ovarium di dalam tubuh embrio (fetus) terdapat sekitar 600.000 buah sel induk telur (oogonium). Pada umur embrio lima bulan, oogonium memperbanyak diri secara mitosis membentuk 7 juta oosit primer. Setelah itu terjadi pengurangan jumlah oosit primer sampai lahir. Pada saat embrio berumur 6 bulan, oosit primer sedang dalam tahap meiosis I, khususnya berada pada tahap profase I. Ketika seorang bayi perempuan lahir, ovarium berisi sekitar 1-2 juta sel telur (oosit primer). Selanjutnya, oosit primer tersebut istirahat (tidak melakukan pembelahan) sampai masa pubertas. Pada waktu anak berumur 7 tahun, jumlah oosit primer berkurang lagi menjadi sekitar 300-400 ribu oosit primer.
Setelah masuk masa pubertas, dan seorang sudah mengalami menstruasi atau haid, saat itu kelenjar hipofisis perempuan mengalami FSH (follicle stimulating hormon), yang merangsang oosit primer untuk melanjutkan pembelahan. Dari pembelahan tersebut, dihasilkan yang ukurannya tidak sama. Sel ukurannya kecil disebut badan polar pertama. Sel tersebut akan melanjutkan dua badan polar. Sel yang berukuran besar disebut oosit sekunder, yang terus membelah menghasilkan satu sel yang besar disebut ootid atau sel badan polar. Seperti halnya spermatogenesis, proses oogenesis juga di pengaruhi oleh badan jenis hormon. Hormon-hormon tersebut dihasilkan oleh hipofisis atau oleh ovarium sendiri.
2. Proses dan Siklus Menstuasi
Secara berkala, sel telur yang sudah matang akan di keluarkan pada indung telur. Sel telur ini akan bergerak melalui saluran telur menuju rahim. Sementara itu, dinding secara berkala dinding rahim akan menebal sehingga rahim siap menerima zigot hasil fertilisasi. Jika fertilisasi tidak terjadi, sel telur dan jaringan yang terbentuk pada dinding rahim akan luruh dan dikeluarkan dari rahim sebagai menstruasi (haid).
Siklus menstuasi ini berkaitan dengan pembentukan sel telur dan pembentukan endometrium (dinding rahim). Siklus menstuasi rata-rata 28 hari. Akan tetapi, tidak semua orang mempunyai siklus yang sama; ada yang masanya hanya 21 hari, dan ada pula mencapai 30 hari. Siklus ini dikendalikan oleh hormon-hormon reproduksi yang dihasilkan oleh hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.
Remaja perempuan yang telah mengalami menstruasi dikatakan telah memasuki usia subur karena telah mengalami ovulasi (menghasilkan ovum).
Wanita mulai mengalami menstruasi pada usia sekitar 9 - 15 tahun dan terus berlanjut sampai masa menopause pada usia sekitar 45-49 tahun. Setelah memasuki masa menopause seorang wanita tidak dapat menghasilkan ovum, karena semua oosit primer yang tersisa mengalami degradasi.
C. Perkembangan Embrio
Pembuahan terjadi di saluran telur (tuba Fallopi atau oviduk). Zigot yang terbentuk menuju ke rahim (uterus), kemudian membelah diri menjadi dua, empat, delapan, enam belas dan seterusnya. Sementara itu, lapisan dalam dinding rahim menebal untuk memberi makanan bagi embrio. Embrio memperoleh makanan dari tubuh induknya melalui plasenta (ari-ari). Selanjutnya, makanan masuk ke embrio melalui tali pusar. Melalui tali pusar tersebut, sisa-sisa metabolisme dan zat yang tidak berguna dialirkan kembali ke plasenta dan akhirnya ke tubulus ibunya.
Di dalam uterus, embrio dikelilingi oleh suatu cairan yang disebut cairan amnion atau ketuban. Cairan amnion berfungsi untuk melindungi embrio dari guncangan.
Tahap perkembangan embrio dari usia 5 minggu hingga 5 bulan. Pada usia 5 minggu, embrio telah mempunyai kepala, mata, tubuh, ekor yang pendek, dan calon tanggan serta kaki. Panjang embrio hampir mencapai 7 millimeter
Pada usia 9 minggu, embrio telah berubah menjadi banyi kecil yang sudah terbentuk. Ia mempunyai wajah dengan mata, telinga, hidung, dan lidah. Jari-jari kaki dan tangannya sudah tampak, kepalanya lebih besar dari badannya. Embrio pada usia ini sudah dapat menggerakkan tangan dan kakinya. Panjang kira-kira 5,5 cm.
Pada usia 14 minggu, organ-organ tubuh yang dimilikinya sudah semakin berkembang. Panjang tubuh bayi sekitar 6 cm.
Pada usia 20 minggu, bayi memiliki panjang tubuh sekitar 19 cm dan beratnya sekitar setengah kilogram. Organ-organ tubuhnya sudah lebih berkembang. Tangan dan kaki sudah di lengkapi kuku. Sudah memiliki alis mata dan bulu mata. Pada usia ini, detak jantung bayi dapat terdeteksi dan bayi sangat aktif.
Ketika usia bayi mencapai 24 Minggu, pertumbuhan badan sangat pesat. Pada saat bayi akan lahir, berat normalnya sekitar 3 kg, panjang sekitar 45 cm, lingkar kepala bayi sama dengan lingkar bahu atau pangkal pahanya. Setelah lahir, plasenta akan ikut keluar.